Berbagai gangguan pada perangkat kantor, mulai dari website yang tiba-tiba lambat, aplikasi yang sulit diakses, hingga server yang mendadak down, tentu menjadi masalah serius bagi perusahaan.
Kondisi ini terkadang tidak disebabkan oleh koneksi internet yang lambat, tetapi oleh serangan siber seperti Distributed Denial of Service atau DDoS.
Bersamaan dengan meningkatnya ancaman digital seperti serangan phishing, perusahaan perlu lebih waspada terhadap berbagai bentuk serangan yang dapat mengganggu operasional bisnis.
Lalu, apa itu serangan DDoS dan bagaimana cara mencegahnya? Simak penjelasan selengkapnya berikut ini!
Apa Itu DDoS?
Distributed Denial of Service atau DDoS adalah jenis serangan cyber yang dilakukan dengan cara membanjiri server, jaringan, atau website menggunakan trafik internet dalam jumlah sangat besar, sehingga sistem tidak mampu menangani permintaan tersebut.
Akibatnya, layanan menjadi lambat, error, bahkan tidak bisa diakses sama sekali. Serangan ini dilakukan menggunakan banyak perangkat yang sudah terinfeksi malware dan dikendalikan secara bersamaan.
Kumpulan perangkat tersebut sering disebut sebagai botnet. Ketika botnet mengirimkan trafik secara terus-menerus ke target, server akan kewalahan dan akhirnya mengalami gangguan.
Serangan DDoS sering menargetkan pihak-pihak yang bergantung pada layanan digital, seperti:
- Perusahaan e-commerce.
- Layanan perbankan dan finansial.
- Website pemerintahan
- Penyedia layanan cloud
- Platform game online.
- Media dan portal berita.
- Perusahaan teknologi.
- Organisasi kesehatan dan pendidikan.
Hal ini terjadi karena sektor-sektor tersebut sangat bergantung pada akses online dan memiliki trafik pengguna yang tinggi. Sistem yang down tentu akan berdampak pada banyak pengguna.
Meskipun serangan ini tidak bertujuan mencuri data secara langsung, DDoS sangat berbahaya karena dapat menghentikan layanan, mengganggu operasional, merusak reputasi perusahaan, dan menimbulkan kerugian finansial.
Terlebih, dampak DDoS akan semakin tinggi jika digunakan sebagai pengalihan isu. Saat tim IT sibuk menangani lonjakan traffic, pelaku bisa menjalankan serangan lain, seperti penyadapan data (MITM), penyebaran malware, atau ransomware.
Akibatnya, serangan tersebut bisa membuat operasional bisnis terganggu, kehilangan potensi penjualan, penurunan produktivitas karyawan, hingga meningkatnya biaya pemulihan sistem.
Cara Kerja Serangan DDoS
Serangan ini biasanya dilakukan dengan memanfaatkan protokol jaringan umum, seperti HTTP dan TCP, lalu mengirimkan permintaan dalam jumlah besar sampai server, aplikasi, atau jaringan tidak kuat menanganinya. Berikut gambaran cara kerja serangan DDoS:
1. Pelaku Membuat atau Menyewa Botnet
Tahap awal serangan DDoS dimulai dari botnet. Botnet merupakan jaringan perangkat yang sudah terinfeksi malware dan bisa dikendalikan dari jarak jauh oleh pelaku.
Perangkat yang masuk ke dalam botnet bisa berupa laptop, komputer desktop, ponsel, perangkat IoT, atau endpoint bisnis. Pemilik perangkat sering kali tidak sadar bahwa perangkatnya telah terinfeksi dan digunakan untuk menyerang pihak lain.
Itulah alasan mengapa cyber security kantor perlu menjadi prioritas. Jika endpoint perusahaan tidak terlindungi, perangkat tersebut bukan hanya berisiko menjadi korban, tetapi juga bisa menjadi bagian dari jaringan serangan.
2. Botnet Mengirim Traffic ke Target
Setelah botnet siap, pelaku akan menginstruksikan banyak perangkat untuk mengirim request ke target yang sama. Targetnya bisa berupa website perusahaan, server aplikasi, layanan cloud, atau alamat IP tertentu.
Mengingat request datang dari banyak sumber sekaligus, sistem target akan kesulitan membedakan mana traffic asli dan mana traffic palsu. Akibatnya, pengguna sah yang ingin mengakses layanan justru tidak bisa masuk.
3. Server Kehabisan Resource
Setiap server, router, firewall, atau aplikasi memiliki batas kapasitas. Ketika jumlah request jauh melebihi kemampuan sistem, layanan akan melambat, error, atau berhenti bekerja.
Pada perusahaan, kondisi ini bisa membuat proses kerja terhambat. Tim internal tidak bisa mengakses sistem, pelanggan tidak bisa membuka website, dan layanan digital menjadi tidak stabil.
4. Pelaku Menyamarkan Sumber Serangan
Ancaman DDoS sering menggunakan teknik penyamaran, seperti IP spoofing. Dengan cara ini, pelaku membuat traffic terlihat seolah-olah berasal dari alamat IP lain. Teknik ini membuat proses pelacakan dan pemblokiran menjadi lebih sulit.
Baca juga: 10 Jenis Perangkat Keamanan Jaringan yang Wajib Diketahui!
Jenis-Jenis Serangan DDoS
Ancaman DDoS memiliki beberapa jenis dengan metode yang berbeda. Berikut beberapa jenis yang paling umum digunakan:
1. Application Layer Attack
Application layer attack menyerang lapisan aplikasi, yaitu bagian yang langsung berhubungan dengan pengguna. Contohnya adalah website, halaman login, halaman pencarian, atau fitur checkout.
Salah satu contoh serangan DDoS pada lapisan ini adalah HTTP flood. Pelaku mengirim banyak permintaan HTTP ke website secara terus-menerus, seolah-olah ada banyak pengguna yang membuka halaman yang sama.
Jika sistem tidak kuat, website bisa melambat atau down. Jenis serangan ini dapat mengganggu aplikasi atau website sehingga berisiko mengganggu portal customer, dashboard internal, hingga sistem pemesanan.
2. Protocol Attack
Protocol attack menyerang lapisan jaringan dan transport. Targetnya berupa firewall, load balancer, atau web server. Serangan ini bertujuan menghabiskan kapasitas perangkat jaringan sehingga koneksi sah tidak bisa diproses.
Contoh serangan DDoS ini adalah SYN flood. Dalam serangan ini, pelaku mengirim banyak permintaan koneksi palsu ke server.
Server kemudian menunggu proses koneksi selesai, tetapi koneksi tersebut tidak pernah benar-benar diselesaikan. Akibatnya, server dipenuhi koneksi yang menggantung dan sulit melayani pengguna asli.
3. Volumetric Attack
Volumetric attack adalah serangan yang membanjiri jaringan dengan volume traffic sangat besar. Tujuannya adalah menghabiskan bandwidth agar pengguna tidak bisa mengakses layanan.
Contoh volumetric attack antara lain UDP flood, ICMP flood, dan DNS amplification. Volumetric attack mengonsumsi bandwidth yang tersedia pada jaringan target atau antara layanan target dan internet.
Jenis serangan ini sangat berbahaya bagi perusahaan yang operasionalnya bergantung pada koneksi internet, layanan cloud, dan aplikasi kerja online.
4. Multivector Attack
Multivector attack menggunakan beberapa metode serangan sekaligus. Misalnya, pelaku memulai dengan volumetric attack, lalu berpindah ke application layer attack ketika pertahanan perusahaan mulai bekerja.
Jenis serangan ini lebih sulit ditangani karena tim IT harus menghadapi beberapa pola serangan dalam waktu bersamaan. Multivector attack memanfaatkan beberapa attack vector untuk memaksimalkan kerusakan dan membuat proses mitigasi menjadi lebih sulit.
Ciri-Ciri Serangan DDoS
Serangan DDoS kadang terlihat seperti gangguan teknis biasa. Maka dari itu, perusahaan perlu mengenali tanda-tandanya sejak awal. Berikut ciri-ciri serangan DDoS yang perlu diperhatikan:
1. Website atau Aplikasi Tiba-Tiba Lambat
Ciri paling umum adalah website, aplikasi, atau layanan online yang tiba-tiba menjadi sangat lambat. Hal ini bisa terjadi karena server menerima terlalu banyak request dalam waktu bersamaan.
Jika banyak karyawan mengakses aplikasi kerja dari laptop kantor dan semuanya mengalami kendala yang sama, perusahaan perlu mencurigai kemungkinan adanya gangguan jaringan atau aksi DDoS.
2. Layanan Tidak Bisa Diakses
Selain lambat, layanan biasanya benar-benar tidak bisa dibuka. Pengguna mungkin melihat halaman error, timeout, atau pesan bahwa server tidak merespons.
3. Traffic Naik secara Tidak Wajar
Lonjakan traffic memang bisa terjadi karena marketing campaign, promo besar, atau konten viral. Namun, jika lonjakan terjadi secara tidak wajar, berasal dari pola yang sama, atau mengarah ke halaman tertentu secara berulang, perusahaan perlu waspada terhadap ancaman DDoS.
4. Banyak Request dari IP Tidak Wajar
Serangan DDoS sering menargetkan satu halaman, endpoint, atau fitur tertentu. Misalnya, halaman login, halaman checkout, API, atau dashboard penting. Tujuannya adalah membuat bagian tersebut kelebihan beban.
5. Layanan dalam Satu Jaringan Ikut Melambat
Jika bukan hanya satu aplikasi yang bermasalah, tetapi juga beberapa layanan dalam jaringan yang sama ikut lambat, kemungkinan gangguan terjadi pada infrastruktur jaringan.
6. Penggunaan Bandwidth Sangat Tinggi
Bandwidth yang tiba-tiba penuh meski tidak ada aktivitas besar dari pengguna asli dapat menjadi indikasi terjadinya aksi DDoS.
Baca juga: 12 Cara Menghapus Virus di Laptop yang Ampuh, Yuk Coba!
Cara Mencegah Serangan DDoS
DDoS memang tidak bisa dicegah sepenuhnya, tetapi risikonya bisa dikurangi dengan perlindungan yang tepat. Berikut cara mencegah serangan tersebut dari sisi jaringan, aplikasi, server, dan endpoint:
1. Menggunakan Web Application Firewall
Web Application Firewall atau WAF membantu menyaring request yang masuk ke aplikasi web. WAF dapat membantu membedakan request yang sah dan request yang mencurigakan sebelum diteruskan ke server.
Langkah ini penting untuk melindungi website perusahaan, portal pelanggan, dashboard admin, dan aplikasi internal berbasis web.
2. Memanfaatkan CDN
Content Delivery Network atau CDN membantu membagi beban traffic ke beberapa server yang tersebar di berbagai lokasi. Dengan CDN, permintaan pengguna tidak selalu langsung menuju server utama.
CDN dapat membantu meningkatkan kapasitas layanan dalam menangani traffic besar. Jika satu server terdampak, traffic bisa dialihkan ke server lain yang masih tersedia.
3. Menerapkan Rate Limiting
Rate limiting adalah pembatasan jumlah request dalam periode waktu tertentu. Dengan cara ini, server tidak langsung kewalahan ketika menerima permintaan dalam jumlah besar.
Namun, pengaturan rate limiting perlu dilakukan dengan hati-hati. Jika terlalu ketat, pengguna asli juga bisa ikut terdampak dan merasa akses menjadi lambat.
4. Menggunakan Load Balancing
Load balancing membantu membagi traffic ke beberapa server. Jika satu server mulai penuh, traffic bisa dialihkan ke server lain. Cara ini membantu menjaga layanan tetap tersedia meskipun terjadi lonjakan akses.
Bagi perusahaan yang memiliki sistem penting, load balancing dapat membantu menjaga stabilitas aplikasi kerja, website, dan layanan pelanggan.
5. Menerapkan Endpoint Detection and Response (EDR)
Endpoint Detection and Response (EDR) membantu perusahaan mendeteksi, menyelidiki, dan merespons aktivitas mencurigakan pada endpoint dan server. Endpoint yang dimaksud bisa berupa laptop kantor, komputer kerja, atau perangkat lain yang digunakan karyawan.
EDR penting karena serangan cyber tidak terlihat dari sisi server saja. Aktivitas mencurigakan juga bisa muncul dari perangkat kerja karyawan. Jika laptop terinfeksi malware, perangkat tersebut bisa menjadi celah keamanan atau bahkan dimanfaatkan dalam jaringan botnet.
6. Memantau Traffic secara Berkala
Perusahaan perlu memantau pola traffic secara rutin. Dengan pemantauan yang baik, tim bisa mengetahui mana traffic normal dan mana traffic yang mencurigakan.
Monitoring ini juga membantu perusahaan membedakan antara lonjakan traffic karena aktivitas bisnis, seperti promo atau kampanye, dengan traffic yang berpotensi berasal dari serangan.
7. Menyiapkan Prosedur Respons Insiden
Perusahaan sebaiknya memiliki prosedur khusus ketika terjadi DDoS. Prosedur ini mencakup siapa yang harus dihubungi, layanan apa yang perlu diamankan lebih dulu, dan bagaimana menghubungi penyedia internet atau cloud.
Tanpa prosedur yang jelas, tim bisa kehilangan waktu untuk mencari penyebab masalah. Padahal, untuk mengatasi DDoS dibutuhkan kecepatan respons agar tidak merembet ke gangguan lainnya.
8. Menggunakan Perangkat Kerja yang Aman dan Terkelola
Laptop kantor yang digunakan karyawan sebaiknya sudah dilengkapi dengan perlindungan keamanan, pembaruan sistem, pengaturan akses, dan pemantauan endpoint. Hal ini penting karena perangkat kerja adalah pintu masuk utama ke banyak sistem perusahaan.
Itulah penjelasan mengenai apa itu DDoS, ciri-ciri, hingga cara mencegahnya. Serangan DDoS dapat memberikan dampak besar terhadap operasional bisnis jika tidak ditangani dengan baik.
Maka dari itu, perusahaan perlu memiliki sistem keamanan yang mampu mendeteksi ancaman lebih cepat dan menjaga stabilitas layanan digital tetap optimal.
Dalam hal ini, Anda dapat menggunakan layanan DaaS (Device as a Service) dari Rentalworks. Tak hanya menyewakan perangkat, layanan ini menyediakan fitur Endpoint Detection and Response (EDR).
Fitur tersebut memudahkan perusahaan untuk mendeteksi, menyelidiki, dan merespons aktivitas mencurigakan di seluruh endpoint dan server.
Dengan sistem investigasi EDR, proses analisis yang sebelumnya bisa memakan waktu sekitar 3 jam dapat dipercepat menjadi sekitar 15 menit.
Untuk itu, segera konsultasikan kebutuhan laptop kantor dan perlindungan endpoint dengan Rentalworks. Hubungi kami dan temukan solusi perangkat kerja yang sesuai untuk operasional bisnis Anda!
Baca juga: Jasa Sewa Laptop Terbaik untuk Bisnis di Rentalworks
